Monday, March 30, 2026

Strategi Prioritas Implementasi Teknologi Hijau di Pelabuhan Nasional: Prioritas Elektrifikasi Peralatan Terminal dan Peningkatan Pemanfaatan Onshore Power Supply (OPS).

Abstrak

Transformasi pelabuhan menuju Green Port memerlukan kombinasi tindakan cepat (quick wins) dan strategi jangka menengah hingga panjang. Tulisan ini menyajikan analisis kebijakan dan teknis terkait empat opsi intervensi yang diajukan dalam Final Concept Note dukungan FS & CBA untuk adopsi advanced technology bersama Pelindo: (1) meningkatkan pemanfaatan Onshore Power Supply (OPS) yang telah terpasang; (2) penambahan kapasitas tenaga surya di area pelabuhan; (3) elektrifikasi peralatan terminal (cranes, RTG, yard equipment) melalui pilot; dan (4) proyek besar jangka panjang (mis. tug hybrid/fully electric). Menggunakan pendekatan SWOT, kajian literatur dan praktik internasional, serta penyesuaian konteks nasional, artikel ini merekomendasikan prioritas utama pada elektrifikasi peralatan terminal (OPSI 3) yang dipadukan paralel dengan akselerasi pemanfaatan OPS (OPSI 1). Rekomendasi mencakup rencana kerja, kebutuhan data untuk FS & CBA, mekanisme koordinasi lintas-stakeholder, serta opsi pembiayaan dan mitigasi risiko. Artikel ditujukan untuk pembuat kebijakan dan pembahas teknis di lingkungan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (DJPL) sebagai pedoman pengambilan keputusan.

Kata Kunci

elektrifikasi pelabuhan, onshore power supply, green port, FS & CBA, Pelindo


1. Pendahuluan

Pelabuhan sebagai simpul utama logistik nasional memiliki peran strategis dalam mendukung konektivitas dan ketahanan pangan. Namun, kegiatan operasional pelabuhan juga menyumbang emisi gas rumah kaca (GRK) dan polusi lokal (NOx, SOx, PM) yang berdampak pada kesehatan masyarakat dan lingkungan sekitar. Sejumlah teknologi rendah karbon—meliputi Onshore Power Supply (OPS/shore power), elektrifikasi peralatan terminal (eRTG, electric cranes), dan pembangkit energi terbarukan onsite (solar PV)—telah diterapkan di berbagai pelabuhan dunia untuk mengurangi emisi dan biaya operasi jangka panjang. Program bantuan teknis internasional seperti UK PACT berkontribusi terhadap penyusunan studi kelayakan dan CBA agar intervensi tersebut layak dan dapat direplikasi secara nasional. (ukpact.co.uk)

Di Indonesia, beberapa infrastruktur OPS sudah terpasang di lingkungan operator pelabuhan, namun tingkat pemanfaatannya masih rendah karena kendala teknis, kesiapan kapal, model bisnis, dan tarif. Sementara itu, peluang untuk mengonversi peralatan terminal dari bahan bakar diesel ke listrik menjadi salah satu jalur paling potensial memberikan manfaat ganda: pengurangan konsumsi bahan bakar dan emisi, serta peningkatan efisiensi operasi. Praktik internasional (mis. Jurong Port, Port of Virginia, Port of Newark, Port of Hull) memberikan gambaran tentang kombinasi solusi dan tantangan implementasinya. (gihub.org)

Tulisan ini disusun oleh pejabat fungsional perencana di Bagian Perencanaan DJPL sebagai kontribusi teknis untuk rapat konsolidasi Final Concept Note, dengan tujuan menyediakan argumentasi kebijakan yang kuat dan panduan operasional untuk memilih skenario prioritas.


2. Rumusan Masalah

  1. Terdapat aset OPS yang telah dipasang namun pemanfaatannya masih rendah (~25%), sehingga potensi penurunan emisi lokal dan GHG belum terealisasi.
  2. Keterbatasan lahan dan kesiapan jaringan kelistrikan menghambat realisasi kapasitas energi terbarukan dan elektrifikasi peralatan di pelabuhan.
  3. Belum tersedia analisis teknis-finansial terpadu (FS & CBA) yang membandingkan alternatif solusi (OPS, solar, elektrifikasi peralatan, proyek besar) secara kontekstual untuk pilot yang representatif.
  4. Mekanisme koordinasi lintas-sektor (Pelindo, PLN, regulator, shipping lines, vendor) dan model pembiayaan yang adil bagi pemangku kepentingan belum diformalkan sehingga menghambat adopsi skala luas.

3. Metode

Pendekatan analisis menggunakan SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) untuk masing-masing opsi intervensi, dipadukan dengan telaah literatur terkini dan studi kasus internasional sebagai bukti pendukung. SWOT dipilih karena mampu merangkum aspek teknis, finansial, institusional, dan lingkungan dalam bentuk yang mudah dijadikan basis kebijakan. Sumber-sumber primer literatur meliputi review akademik soal OPS, laporan investasi dan benchmark pelabuhan, serta dokumentasi kasus implementasi elektrifikasi dan solar pada pelabuhan besar. Untuk penguatan argumen kebijakan, hasil SWOT dikombinasikan dengan analisis skenario biaya-manfaat (naratif) dan implikasi replikasi nasional. (Referensi utama yang dijadikan beban bukti tercantum di bagian Referensi). (Frontiers)


4. Hasil dan Pembahasan

4.1 SWOT ringkas per opsi

OPSI 1 — Meningkatkan Pemanfaatan OPS (Onshore Power Supply)

  • Strengths: Infrastruktur OPS sudah ada pada beberapa lokasi → incremental cost rendah untuk peningkatan pemanfaatan; langsung mengurangi emisi lokal pada dermaga.
  • Weaknesses: Keterbatasan kapal yang siap terhubung (shore-power compatible); ketidakjelasan mekanisme penagihan dan insentif; kebutuhan harmonisasi standar teknis.
  • Opportunities: Dapat menjadi quick win menunjukkan komitmen emisi rendah kota-pelabuhan; memanfaatkan momentum regulasi lingkungan global.
  • Threats: Jika uptake rendah tetap, biaya investasi awal tidak terbayar; kebutuhan koordinasi antar-aktor (operator, shipping lines, PLN).
    Evidence: studi review menunjukkan shore power efektif mengurangi emisi saat kapal bersandar, tetapi uptake global masih terbatas dan bergantung pada kesiapan kapal serta model bisnis. (
    Frontiers)

OPSI 2 — Penambahan Kapasitas Solar di Area Pelabuhan

  • Strengths: Mengurangi konsumsi listrik jaringan (scope 2), reputasi hijau, potensi pemasukan melalui PPA/renewable certificates.
  • Weaknesses: Lahan terbatas di areal pelabuhan; intermitensi energi memerlukan storage atau pengaturan beban; CAPEX dan O&M.
  • Opportunities: Model pembiayaan inovatif (leasing, PPA) sukses di beberapa pelabuhan; bisa dikombinasikan dengan rooftop/floating PV.
  • Threats: Integrasi ke jaringan dan penanganan peak charging peralatan listrik menjadi tantangan; perlu studi investasi grade audit.
    Kasus: Jurong Port menunjukkan solar leasing dapat menyediakan porsi signifikan kebutuhan listrik terminal dan mengurangi emisi. (
    gihub.org)

OPSI 3 — Elektrifikasi Peralatan Terminal (Pilot eRTG/e-crane)

  • Strengths: Dampak langsung terhadap konsumsi bahan bakar dan emisi; hasil mudah diukur per unit; teknologi sudah komersial (retrofit dan unit baru).
  • Weaknesses: Butuh upgrade infrastruktur listrik (trafo/feeder), jadwal retrofit dapat mengganggu operasi sementara.
  • Opportunities: Model replikasi tinggi — jika pilot sukses, bisa disebar ke banyak terminal; potensi penghematan OPEX signifikan.
  • Threats: Ketersediaan pembiayaan CAPEX awal dan kemampuan supply chain lokal untuk retrofit/servis.
    Bukti: Manual dan studi kasus di berbagai terminal menunjukkan elektrifikasi RTG/crane dapat memberikan penghematan OPEX jangka panjang walau payback tergantung harga listrik dan insentif. (
    Interreg Baltic Sea Region)

OPSI 4 — Proyek Besar Jangka Panjang (Hybrid/Full-electric Vessels & Harbour Craft)

  • Strengths: Potensi transformasional besar terhadap emisi sektor maritim lokal.
  • Weaknesses: Lead time dan CAPEX sangat besar; keterbatasan shipyard lokal dan ekosistem supply.
  • Opportunities: Sinkronisasi dengan agenda net-zero jangka panjang dan peluang pengembangan industri lokal.
  • Threats: Risiko pasar alat dan teknologi, serta kebutuhan standardisasi internasional dan sertifikasi.
    Catatan: Proyek ini strategis untuk roadmap 2030+ namun bukan sumber quick wins.

4.2 Analisis komparatif dan argumen pilih prioritas

Dengan mempertimbangkan kriteria feasilibilitas teknis, biaya-manfaat jangka pendek hingga menengah, waktu implementasi, dan replikasi nasional, elektrifikasi peralatan terminal (OPSI 3) muncul sebagai prioritas utama untuk fase pilot. Alasan utamanya:

  1. Dampak langsung dan terukur — konversi/retrofit peralatan menggantikan konsumsi diesel yang intensif; pengurangan emisi dan penghematan bahan bakar dapat diestimasi dan diukur dengan data operasional unit per unit. Hasil pilot memberikan bukti kuantitatif untuk replikasi. (Interreg Baltic Sea Region)
  2. Keterjangkauan implementasi pilot — meski memerlukan CAPEX, proyek pilot pada beberapa unit (2–4 unit) memungkinkan pembelajaran teknis dan minimal gangguan operasi dibanding proyek infrastruktur besar.
  3. Skalabilitas — banyak terminal memiliki peralatan serupa yang dapat dikonversi, sehingga paket teknis dan finansial dapat disusun untuk perluasan. Studi kasus Eropa menunjukkan kombinasi battery/ grid-hybrid eRTG bisa mengurangi lifecycle cost meski payback bervariasi. (Interreg Baltic Sea Region)

Namun, OPS (OPSI 1) harus dijalankan paralel sebagai quick win karena infrastruktur sebagian sudah tersedia; peningkatan utilisasi OPS dapat memberikan pengurangan polutan lokal segera dengan biaya relatif rendah jika hambatan bisnis dan SOP ditangani (mis. penyesuaian tarif dan insentif kapal). Studi review menekankan bahwa OPS efektif untuk perbaikan kualitas udara namun uptake bergantung pada kesiapan kapal dan model komersial. (Frontiers)

Solar (OPSI 2) direkomendasikan sebagai komponen pendukung jangka menengah yang memperkecil ketergantungan pada jaringan nasional dan membantu menutup sebagian kebutuhan listrik terminal, namun perlu audit investasi (IGA) untuk menilai realisasi target 30% mengingat keterbatasan lahan dan kebutuhan storage. Jurong Port menjadi contoh model pembiayaan yang inovatif (solar leasing/PPA) untuk mengatasi kendala CAPEX. (gihub.org)

OPSI 4 disarankan tetap masuk ke roadmap 2027/2028+ sebagai proyek strategis jangka panjang yang membutuhkan kesiapan industri kapal dan pembiayaan pemerintah/publik-privat.

4.3 Implikasi kebijakan dan mekanisme implementasi

Berdasarkan analisis, beberapa implikasi kebijakan dan aturan yang perlu dirumuskan atau diperkuat:

  1. Standar teknis dan prosedur operasional OPS — harmonisasi standar konektor, safety, dan mekanisme penagihan. DJPL perlu mengeluarkan pedoman operasional nasional bersama PLN dan otoritas pelabuhan.
  2. Model pembiayaan blended finance — kombinasi hibah pilot (UK PACT / donor), dukungan APBN untuk co-financing infrastruktur kelistrikan, dan mekanisme PPA/lease untuk solar dan charging infrastructure. IGA harus memetakan skenario ini dalam CBA. (ukpact.co.uk)
  3. Koordinasi PLN sejak awal — upgrade trafo/feeder menjadi determinan utama untuk elektrifikasi; harus masuk dalam TOR FS & CBA.
  4. Syarat data dan focal point — Pelindo perlu menunjuk focal point teknis dan menyediakan data operasional (equipment inventory, fuel usage, kWh consumption, vessel calls) agar FS & CBA robust.
  5. Kebijakan insentif/penalti — mempertimbangkan insentif untuk kapal yang berkompatibilitas OPS di awal adopsi dan regulasi lingkup emisi lokal untuk mendorong uptake.

5. Kesimpulan

Dari empat opsi yang diajukan, elektrifikasi peralatan terminal (OPSI 3) merupakan pilihan prioritas untuk tahap pilot karena efek reduksi emisi yang langsung, replikasi tinggi, dan potensi penghematan OPEX. Aksi ini sebaiknya dipadukan paralel dengan program peningkatan pemanfaatan OPS (OPSI 1) sebagai quick win yang memberikan manfaat lingkungan segera. Penambahan kapasitas solar (OPSI 2) dan program besar jangka panjang (OPSI 4) harus menjadi bagian dari strategi jangka menengah dan panjang dengan pendalaman IGA dan persiapan pembiayaan.


6. Rekomendasi (aksi operasional dan kebijakan)

  1. Setujui pilot OPSI 3 pada lokasi representatif (mis. contoh: sebuah container terminal dan sebuah terminal general) dengan target KPI awal: ≥30% pengurangan konsumsi diesel per unit, payback target ≤7 tahun, dan definisi baseline emisi.
  2. Formalkan TWG (technical working group): Pelindo (focal point), DJPL Bagian Perencanaan (pembahas), Direktorat Kepelabuhanan, PLN perwakilan, IREEM/consultant, vendor, dan perwakilan shipping lines.
  3. Keluarkan surat permintaan data resmi ke Pelindo lampiran checklist (inventory peralatan, profil konsumsi, throughput, trafo & kWh data) dalam 14 hari kerja. (Checklist data terperinci sebagai lampiran TOR FS & CBA).
  4. Paralel tindakan OPSI 1: audit kesiapan kapal, harmonisasi SOP OPS, dan skema tarif/insentif untuk meningkatkan utilisasi OPS dari 25% → target ≥60% untuk kapal kompatibel dalam 12 bulan.
  5. Lakukan IGA untuk OPSI 2 (solar) untuk menilai potensi rooftop/floating PV, kebutuhan storage, dan model PPA/lease; implementasi setelah verifikasi ekonomi. (gihub.org)
  6. Masukkan koordinasi PLN sebagai prasyarat dalam TOR FS & CBA untuk memastikan ketersediaan kapasitas jaringan dan jadwal upgrade.
  7. Susun model pembiayaan blended (donor grant untuk pilot, co-financing Pelindo/APBN untuk infrastruktur jaringan, PPA/lease untuk solar/charging infra) dan masukkan analisis distribusi biaya/benefit dalam CBA. (World Port Sustainability Program)
  8. Rencanakan M&E dan paket replikasi: definisikan indikator, template laporan, dan paket teknis-finansial yang dapat disebar ke pelabuhan lain setelah evaluasi pilot.

Referensi

  1. Kizielewicz, J., et al., Onshore power supply – trends in research studies, Frontiers in Energy Research, 2024. (Frontiers)
  2. IREEM, Through the SUSTAINED program, Moving Toward Cleaner Maritime Transport (IREEM post on UK PACT collaboration). (IREEM)
  3. UK PACT Indonesia, Country Programme — Indonesia (program overview). (ukpact.co.uk)
  4. IAPH (Sustainable World Ports), Study on Investment Requirements of Developing Port Climate Investments (IAPH report). (World Port Sustainability Program)
  5. Jurong Port case (solar leasing), Global Infrastructure Hub / Jurong Port documentation on solar leasing and PV deployment. (gihub.org)
  6. Interreg / Baltic manual, Demonstrated electrification process of port operations (case studies on eRTG/equipment). (Interreg Baltic Sea Region)
  7. Research articles and reviews on shore power effectiveness and policy considerations (e.g., ScienceDirect review, Mariterm report). (ScienceDirect)
  8. Port technology brochures and case study material on RTG electrification (Cavotec / vendor literature). (Port Technology International)

No comments:

Post a Comment