Abstrak
Transformasi
pelabuhan menuju Green Port memerlukan kombinasi tindakan cepat (quick
wins) dan strategi jangka menengah hingga panjang. Tulisan ini menyajikan
analisis kebijakan dan teknis terkait empat opsi intervensi yang diajukan dalam
Final Concept Note dukungan FS & CBA untuk adopsi advanced technology
bersama Pelindo: (1) meningkatkan pemanfaatan Onshore Power Supply (OPS) yang
telah terpasang; (2) penambahan kapasitas tenaga surya di area pelabuhan; (3)
elektrifikasi peralatan terminal (cranes, RTG, yard equipment) melalui pilot;
dan (4) proyek besar jangka panjang (mis. tug hybrid/fully electric).
Menggunakan pendekatan SWOT, kajian literatur dan praktik internasional, serta
penyesuaian konteks nasional, artikel ini merekomendasikan prioritas utama pada
elektrifikasi peralatan terminal (OPSI 3) yang dipadukan paralel dengan
akselerasi pemanfaatan OPS (OPSI 1). Rekomendasi mencakup rencana kerja,
kebutuhan data untuk FS & CBA, mekanisme koordinasi lintas-stakeholder,
serta opsi pembiayaan dan mitigasi risiko. Artikel ditujukan untuk pembuat
kebijakan dan pembahas teknis di lingkungan Direktorat Jenderal Perhubungan
Laut (DJPL) sebagai pedoman pengambilan keputusan.
Kata Kunci
elektrifikasi
pelabuhan, onshore power supply, green port, FS & CBA, Pelindo
1. Pendahuluan
Pelabuhan
sebagai simpul utama logistik nasional memiliki peran strategis dalam mendukung
konektivitas dan ketahanan pangan. Namun, kegiatan operasional pelabuhan juga
menyumbang emisi gas rumah kaca (GRK) dan polusi lokal (NOx, SOx, PM) yang
berdampak pada kesehatan masyarakat dan lingkungan sekitar. Sejumlah teknologi
rendah karbon—meliputi Onshore Power Supply (OPS/shore power), elektrifikasi
peralatan terminal (eRTG, electric cranes), dan pembangkit energi terbarukan
onsite (solar PV)—telah diterapkan di berbagai pelabuhan dunia untuk mengurangi
emisi dan biaya operasi jangka panjang. Program bantuan teknis internasional
seperti UK PACT berkontribusi terhadap penyusunan studi kelayakan dan CBA agar
intervensi tersebut layak dan dapat direplikasi secara nasional. (ukpact.co.uk)
Di Indonesia,
beberapa infrastruktur OPS sudah terpasang di lingkungan operator pelabuhan,
namun tingkat pemanfaatannya masih rendah karena kendala teknis, kesiapan
kapal, model bisnis, dan tarif. Sementara itu, peluang untuk mengonversi
peralatan terminal dari bahan bakar diesel ke listrik menjadi salah satu jalur
paling potensial memberikan manfaat ganda: pengurangan konsumsi bahan bakar dan
emisi, serta peningkatan efisiensi operasi. Praktik internasional (mis. Jurong
Port, Port of Virginia, Port of Newark, Port of Hull) memberikan gambaran
tentang kombinasi solusi dan tantangan implementasinya. (gihub.org)
Tulisan ini
disusun oleh pejabat fungsional perencana di Bagian Perencanaan DJPL sebagai
kontribusi teknis untuk rapat konsolidasi Final Concept Note, dengan tujuan
menyediakan argumentasi kebijakan yang kuat dan panduan operasional untuk
memilih skenario prioritas.
2. Rumusan
Masalah
- Terdapat aset OPS yang telah dipasang
namun pemanfaatannya masih rendah (~25%), sehingga potensi penurunan emisi
lokal dan GHG belum terealisasi.
- Keterbatasan lahan dan kesiapan jaringan
kelistrikan menghambat realisasi kapasitas energi terbarukan dan
elektrifikasi peralatan di pelabuhan.
- Belum tersedia analisis teknis-finansial
terpadu (FS & CBA) yang membandingkan alternatif solusi (OPS, solar,
elektrifikasi peralatan, proyek besar) secara kontekstual untuk pilot yang
representatif.
- Mekanisme koordinasi lintas-sektor
(Pelindo, PLN, regulator, shipping lines, vendor) dan model pembiayaan
yang adil bagi pemangku kepentingan belum diformalkan sehingga menghambat
adopsi skala luas.
3. Metode
Pendekatan
analisis menggunakan SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats)
untuk masing-masing opsi intervensi, dipadukan dengan telaah literatur terkini
dan studi kasus internasional sebagai bukti pendukung. SWOT dipilih karena
mampu merangkum aspek teknis, finansial, institusional, dan lingkungan dalam
bentuk yang mudah dijadikan basis kebijakan. Sumber-sumber primer literatur
meliputi review akademik soal OPS, laporan investasi dan benchmark pelabuhan,
serta dokumentasi kasus implementasi elektrifikasi dan solar pada pelabuhan
besar. Untuk penguatan argumen kebijakan, hasil SWOT dikombinasikan dengan
analisis skenario biaya-manfaat (naratif) dan implikasi replikasi nasional.
(Referensi utama yang dijadikan beban bukti tercantum di bagian Referensi). (Frontiers)
4. Hasil dan
Pembahasan
4.1 SWOT
ringkas per opsi
OPSI 1 —
Meningkatkan Pemanfaatan OPS (Onshore Power Supply)
- Strengths: Infrastruktur OPS sudah ada
pada beberapa lokasi → incremental cost rendah untuk peningkatan
pemanfaatan; langsung mengurangi emisi lokal pada dermaga.
- Weaknesses: Keterbatasan kapal yang siap
terhubung (shore-power compatible); ketidakjelasan mekanisme penagihan dan
insentif; kebutuhan harmonisasi standar teknis.
- Opportunities: Dapat menjadi quick win
menunjukkan komitmen emisi rendah kota-pelabuhan; memanfaatkan momentum
regulasi lingkungan global.
- Threats: Jika uptake rendah tetap, biaya
investasi awal tidak terbayar; kebutuhan koordinasi antar-aktor (operator,
shipping lines, PLN).
Evidence: studi review menunjukkan shore power efektif mengurangi emisi saat kapal bersandar, tetapi uptake global masih terbatas dan bergantung pada kesiapan kapal serta model bisnis. (Frontiers)
OPSI 2 —
Penambahan Kapasitas Solar di Area Pelabuhan
- Strengths: Mengurangi konsumsi listrik
jaringan (scope 2), reputasi hijau, potensi pemasukan melalui
PPA/renewable certificates.
- Weaknesses: Lahan terbatas di areal
pelabuhan; intermitensi energi memerlukan storage atau pengaturan beban;
CAPEX dan O&M.
- Opportunities: Model pembiayaan inovatif
(leasing, PPA) sukses di beberapa pelabuhan; bisa dikombinasikan dengan
rooftop/floating PV.
- Threats: Integrasi ke jaringan dan
penanganan peak charging peralatan listrik menjadi tantangan; perlu studi
investasi grade audit.
Kasus: Jurong Port menunjukkan solar leasing dapat menyediakan porsi signifikan kebutuhan listrik terminal dan mengurangi emisi. (gihub.org)
OPSI 3 —
Elektrifikasi Peralatan Terminal (Pilot eRTG/e-crane)
- Strengths: Dampak langsung terhadap
konsumsi bahan bakar dan emisi; hasil mudah diukur per unit; teknologi
sudah komersial (retrofit dan unit baru).
- Weaknesses: Butuh upgrade infrastruktur
listrik (trafo/feeder), jadwal retrofit dapat mengganggu operasi
sementara.
- Opportunities: Model replikasi tinggi —
jika pilot sukses, bisa disebar ke banyak terminal; potensi penghematan
OPEX signifikan.
- Threats: Ketersediaan pembiayaan CAPEX
awal dan kemampuan supply chain lokal untuk retrofit/servis.
Bukti: Manual dan studi kasus di berbagai terminal menunjukkan elektrifikasi RTG/crane dapat memberikan penghematan OPEX jangka panjang walau payback tergantung harga listrik dan insentif. (Interreg Baltic Sea Region)
OPSI 4 — Proyek
Besar Jangka Panjang (Hybrid/Full-electric Vessels & Harbour Craft)
- Strengths: Potensi transformasional besar
terhadap emisi sektor maritim lokal.
- Weaknesses: Lead time dan CAPEX sangat
besar; keterbatasan shipyard lokal dan ekosistem supply.
- Opportunities: Sinkronisasi dengan agenda
net-zero jangka panjang dan peluang pengembangan industri lokal.
- Threats: Risiko pasar alat dan teknologi,
serta kebutuhan standardisasi internasional dan sertifikasi.
Catatan: Proyek ini strategis untuk roadmap 2030+ namun bukan sumber quick wins.
4.2 Analisis
komparatif dan argumen pilih prioritas
Dengan
mempertimbangkan kriteria feasilibilitas teknis, biaya-manfaat jangka pendek
hingga menengah, waktu implementasi, dan replikasi nasional, elektrifikasi
peralatan terminal (OPSI 3) muncul sebagai prioritas utama untuk fase pilot.
Alasan utamanya:
- Dampak langsung dan terukur —
konversi/retrofit peralatan menggantikan konsumsi diesel yang intensif;
pengurangan emisi dan penghematan bahan bakar dapat diestimasi dan diukur
dengan data operasional unit per unit. Hasil pilot memberikan bukti
kuantitatif untuk replikasi. (Interreg
Baltic Sea Region)
- Keterjangkauan implementasi pilot — meski
memerlukan CAPEX, proyek pilot pada beberapa unit (2–4 unit) memungkinkan
pembelajaran teknis dan minimal gangguan operasi dibanding proyek
infrastruktur besar.
- Skalabilitas — banyak
terminal memiliki peralatan serupa yang dapat dikonversi, sehingga paket
teknis dan finansial dapat disusun untuk perluasan. Studi kasus Eropa
menunjukkan kombinasi battery/ grid-hybrid eRTG bisa mengurangi lifecycle
cost meski payback bervariasi. (Interreg
Baltic Sea Region)
Namun, OPS
(OPSI 1) harus dijalankan paralel sebagai quick win karena infrastruktur
sebagian sudah tersedia; peningkatan utilisasi OPS dapat memberikan pengurangan
polutan lokal segera dengan biaya relatif rendah jika hambatan bisnis dan SOP
ditangani (mis. penyesuaian tarif dan insentif kapal). Studi review menekankan
bahwa OPS efektif untuk perbaikan kualitas udara namun uptake bergantung pada
kesiapan kapal dan model komersial. (Frontiers)
Solar (OPSI 2)
direkomendasikan sebagai komponen pendukung jangka menengah yang memperkecil
ketergantungan pada jaringan nasional dan membantu menutup sebagian kebutuhan
listrik terminal, namun perlu audit investasi (IGA) untuk menilai realisasi
target 30% mengingat keterbatasan lahan dan kebutuhan storage. Jurong Port
menjadi contoh model pembiayaan yang inovatif (solar leasing/PPA) untuk
mengatasi kendala CAPEX. (gihub.org)
OPSI 4
disarankan tetap masuk ke roadmap 2027/2028+ sebagai proyek strategis
jangka panjang yang membutuhkan kesiapan industri kapal dan pembiayaan
pemerintah/publik-privat.
4.3 Implikasi
kebijakan dan mekanisme implementasi
Berdasarkan
analisis, beberapa implikasi kebijakan dan aturan yang perlu dirumuskan atau
diperkuat:
- Standar teknis dan prosedur operasional
OPS
— harmonisasi standar konektor, safety, dan mekanisme penagihan. DJPL
perlu mengeluarkan pedoman operasional nasional bersama PLN dan otoritas
pelabuhan.
- Model pembiayaan blended finance —
kombinasi hibah pilot (UK PACT / donor), dukungan APBN untuk co-financing
infrastruktur kelistrikan, dan mekanisme PPA/lease untuk solar dan
charging infrastructure. IGA harus memetakan skenario ini dalam CBA. (ukpact.co.uk)
- Koordinasi PLN sejak awal — upgrade
trafo/feeder menjadi determinan utama untuk elektrifikasi; harus masuk dalam
TOR FS & CBA.
- Syarat data dan focal point — Pelindo
perlu menunjuk focal point teknis dan menyediakan data operasional
(equipment inventory, fuel usage, kWh consumption, vessel calls) agar FS
& CBA robust.
- Kebijakan insentif/penalti —
mempertimbangkan insentif untuk kapal yang berkompatibilitas OPS di awal
adopsi dan regulasi lingkup emisi lokal untuk mendorong uptake.
5. Kesimpulan
Dari empat opsi
yang diajukan, elektrifikasi peralatan terminal (OPSI 3) merupakan
pilihan prioritas untuk tahap pilot karena efek reduksi emisi yang langsung,
replikasi tinggi, dan potensi penghematan OPEX. Aksi ini sebaiknya dipadukan
paralel dengan program peningkatan pemanfaatan OPS (OPSI 1) sebagai quick
win yang memberikan manfaat lingkungan segera. Penambahan kapasitas solar
(OPSI 2) dan program besar jangka panjang (OPSI 4) harus menjadi bagian dari
strategi jangka menengah dan panjang dengan pendalaman IGA dan persiapan
pembiayaan.
6. Rekomendasi
(aksi operasional dan kebijakan)
- Setujui pilot OPSI 3 pada
lokasi representatif (mis. contoh: sebuah container terminal dan sebuah
terminal general) dengan target KPI awal: ≥30% pengurangan konsumsi diesel
per unit, payback target ≤7 tahun, dan definisi baseline emisi.
- Formalkan TWG (technical working group): Pelindo
(focal point), DJPL Bagian Perencanaan (pembahas), Direktorat
Kepelabuhanan, PLN perwakilan, IREEM/consultant, vendor, dan perwakilan
shipping lines.
- Keluarkan surat permintaan data resmi ke
Pelindo lampiran checklist (inventory peralatan, profil konsumsi,
throughput, trafo & kWh data) dalam 14 hari kerja. (Checklist data
terperinci sebagai lampiran TOR FS & CBA).
- Paralel tindakan OPSI 1: audit
kesiapan kapal, harmonisasi SOP OPS, dan skema tarif/insentif untuk
meningkatkan utilisasi OPS dari 25% → target ≥60% untuk kapal kompatibel
dalam 12 bulan.
- Lakukan IGA untuk OPSI 2 (solar)
untuk menilai potensi rooftop/floating PV, kebutuhan storage, dan model
PPA/lease; implementasi setelah verifikasi ekonomi. (gihub.org)
- Masukkan koordinasi PLN sebagai prasyarat dalam TOR
FS & CBA untuk memastikan ketersediaan kapasitas jaringan dan jadwal
upgrade.
- Susun model pembiayaan blended (donor
grant untuk pilot, co-financing Pelindo/APBN untuk infrastruktur jaringan,
PPA/lease untuk solar/charging infra) dan masukkan analisis distribusi
biaya/benefit dalam CBA. (World Port
Sustainability Program)
- Rencanakan M&E dan paket replikasi:
definisikan indikator, template laporan, dan paket teknis-finansial yang
dapat disebar ke pelabuhan lain setelah evaluasi pilot.
Referensi
- Kizielewicz, J., et al., Onshore power
supply – trends in research studies, Frontiers in Energy Research,
2024. (Frontiers)
- IREEM, Through the SUSTAINED program,
Moving Toward Cleaner Maritime Transport (IREEM post on UK PACT
collaboration). (IREEM)
- UK PACT Indonesia, Country Programme —
Indonesia (program overview). (ukpact.co.uk)
- IAPH (Sustainable World Ports), Study
on Investment Requirements of Developing Port Climate Investments
(IAPH report). (World Port
Sustainability Program)
- Jurong Port case (solar leasing), Global
Infrastructure Hub / Jurong Port documentation on solar leasing and PV
deployment. (gihub.org)
- Interreg / Baltic manual, Demonstrated
electrification process of port operations (case studies on
eRTG/equipment). (Interreg
Baltic Sea Region)
- Research articles and reviews on shore
power effectiveness and policy considerations (e.g., ScienceDirect review,
Mariterm report). (ScienceDirect)
- Port technology brochures and case study
material on RTG electrification (Cavotec / vendor literature). (Port Technology International)
No comments:
Post a Comment