Wednesday, June 18, 2025

Efisiensi Energi di Pelabuhan Indonesia: Mengatasi Tantangan dan Memanfaatkan Peluang untuk Masa Depan Berkelanjutan

 by P.A. - Transportation Planner


ABSTRAK

Artikel kebijakan ini membahas pentingnya efisiensi energi di pelabuhan Indonesia yang berperan sebagai pilar ekonomi melalui perdagangan, tetapi turut menyumbang emisi gas rumah kaca dan polusi, sehingga memerlukan strategi untuk masa depan berkelanjutan. Penelitian ini mengidentifikasi tantangan utama dalam penerapannya seperti biaya investasi yang tinggi, keterbatasan teknologi dan pengetahuan, regulasi yang belum harmonis. Rekomendasi yang diajukan meliputi implementasi kebijakan investasi dan insentif fiskal, pengembangan infrastruktur dan teknologi, penyempurnaan regulasi, intensifikasi pendidikan dan pelatihan, serta kerjasama dan kolaborasi. Artikel ini menyajikan panduan bagi Kementerian Perhubungan dan pemangku kepentingan untuk mengoptimalkan efisiensi energi pelabuhan, guna mereduksi emisi, meningkatkan daya saing ekonomi, dan mendukung pembangunan transportasi berkelanjutan.

Kata kunci: Efisiensi energi, Pelabuhan Indonesia, Keberlanjutan, Kebijakan


A. Pendahuluan

Pelabuhan merupakan infras-truktur penting dalam menunjang perekonomian nasional. Di Indonesia, peningkatan aktivitas logistik di pelabuhan menyebabkan konsumsi energi dan emisi gas rumah kaca meningkat signifikan, memperparah perubahan iklim dan kerusakan lingkungan. Oleh karena itu, upaya peningkatan efisiensi energi di pelabuhan Indonesia dapat mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 30% dan menurunkan biaya operasional hingga 20% (ESCAP, 2022). Selain manfaat lingkungan, ini juga akan meningkatkan daya saing pelabuhan Indonesia di kancah internasional, yang saat ini menempati peringkat 61 dalam Logistics Performance Index (LPI) 2023 (World Bank, 2023), mengurangi biaya operasional

Efisiensi energi bertujuan mengurangi konsumsi energi dalam operasional pelabuhan tanpa menurunkan kualitas layanan. Kontribusi penerapannya pada pelabuhan adalah sangat penting karena sebagai bagian dari sektor transportasi, yang saat ini mengonsumsi energi terbanyak kedua dibandingkan sektor lainnya (Kementerian ESDM, 2024). Teknologi inovatif diperlukan dalam berbagai sistem pelabuhan seperti derek, kendaraan, dan suplai daya untuk kapal yang berlabuh (Acciaro et al., 2014; Iris & Lam, 2019).

Aktivitas pelabuhan berkon-tribusi signifikan terhadap emisi gas rumah kaca dan polusi lingkungan. Emisi dari kapal, truk, dan peralatan pelabuhan adalah sumber utama polusi udara di daerah pelabuhan (Cullinane & Bergqvist, 2014). Polusi air dari tumpahan minyak dan limbah industri juga juga mengancam ekosistem laut. Efisiensi energi di pelabuhan adalah kunci untuk mengurangi emisi, meningkatkan daya saing ekonomi, dan menciptakan lingkungan bersih.


B. Rumusan Masalah

Efisiensi energi di pelabuhan merupakan isu penting dalam keberlanjutan dan daya saing sektor maritim. Sebagai negara kepulauan dengan ekonomi maritim yang besar, pelabuhan-pelabuhan di Indonesia menghadapi tantangan signifikan dalam mengelola konsumsi energi dan emisi. Artikel ini merumuskan beberapa masalah utama: pertama, kondisi efisiensi energi di pelabuhan utama Indonesia; kedua, tantangan utama yang menghambat efisiensi energi di pelabuhan; ketiga, strategi dan kebijakan untuk mengatasi tantangan tersebut, serta yang keempat, peran kebijakan dan regulasi dalam mendorong efisiensi energi di pelabuhan Indonesia.

Tujuan artikel kebijakan ini adalah: menganalisis kondisi saat ini terkait efisiensi energi di pelabuhan-pelabuhan utama Indonesia, mengidentifikasi tan-tangan utama dalam mencapai efisiensi energi di pelabuhan Indonesia, dan mengeksplorasi strategi serta kebijakan yang tepat  efektif yang dapat diterapkan untuk mengatasi tantangan tersebut. Hasil penelitian diharapkan memberikan informasi bermanfaat bagi pemangku kepentingan tentang pentingnya efisiensi energi di pelabuhan, memberikan panduan dan rekomendasi konkret untuk meningkatkan efisiensi energi, serta mendukung perumusan kebijakan dan regulasi yang efektif untuk efisiensi energi di pelabuhan Indonesia.


C. Metodologi Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif dengan metode deskriptif-analitis untuk mengeksplorasi efisiensi energi di pelabuhan-pelabuhan utama di Indonesia. Metode kualitatif diterapkan untuk memahami konteks dan perspektif pemangku kepentingan terkait efisiensi energi di pelabuhan. Metode kuantitatif digunakan untuk menganalisis data konsumsi energi dan mengukur efektivitas solusi yang diusulkan. Langkah-langkah penelitian ini meliputi: pertama, studi literatur untuk mengkaji dokumen kebijakan pemerintah, laporan industri, dan penelitian akademis tentang efisiensi energi di pelabuhan. Kedua, analisis data sekunder untuk memperoleh informasi empiris mengenai kondisi operasional dan penggunaan energi di pelabuhan utama di Indonesia. Ketiga, analisis SWOT untuk memahami kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman terkait efisiensi energi di pelabuhan Indonesia.


D. Hasil dan Pembahasan

1. Kondisi Efisiensi Energi di Pelabuhan Utama Indonesia

Tingkat penggunaan energi di pelabuhan utama dapat dilihat dari kondisi operasionalnya, terutama jumlah pergerakan bongkar muat barang dan keberangkatan dan kedatangan penumpang (Badan Pusat Statistik, 2023). Pelabuhan Tanjung Priok, misalnya, menyumbang rata-rata 30,94% per tahun dari total aktivitas bongkar muat di semua pelabuhan utama (Supply Chain Indonesia, 2021). Operasional pelabuhan ini memerlukan konsumsi energi tinggi, terutama dari sumber berbahan bakar fosil, yang menyebabkan emisi gas rumah kaca.

Gambar 1. Konsumsi Energi 2022

Sumber: Cahyadi (2024)

Gambar 1 memperlihatkan pada tahun 2022 bahwa sektor transportasi mengonsumsi energi terbesar kedua setelah sektor industri, dengan rincian konsumsi dari BBM (99%), Gas (0,02%) dan listrik (0,05%) (Cahyadi, 2024).

Sebagian besar infrastruktur pelabuhan masih menggunakan teknologi lama yang tidak efisien, memperparah penggunaan energi dan emisi. Pemerintah berupaya meningkatkan infrastruktur melalui inisiatif seperti penerapan konsep "green port," yang mencakup penggunaan energi terbarukan dan teknologi efisiensi energi lainnya (Ambari, 2021). Namun saat ini ada peningkatan kesadaran mengenai pentingnya efisiensi energi di kalangan pengelola pelabuhan. Meskipun implementasinya masih terbatas, beberapa pelabuhan telah mulai mengadopsi praktik-praktik efisiensi energi, seperti penggunaan tenaga surya atap dan bahan bakar gas untuk operasional harian (Kementerian ESDM, 2024).

Sejalan dengan itu, Kementerian Perhubungan dalam KM 8 Tahun 2023 tentang Penetapan aksi Mitigasi Perubahan Iklim Sektor Transportasi untuk Pencapaian Target Kontribusi yang ditetapkan secara Nasional telah menetapkan efisiensi energi di sektor transportasi sebagai salahsatu kategori dalam aksi mitigasi. Langkah signifikan dalam meningkatkan efisiensi energi telah mulai dilakukan di beberapa pelabuhan utama Indonesia melalui pemasangan shore connection, seperti terlihat di Tabel 1. 

Tabel 1. Shore Connection di Pelabuhan Indonesia

Sumber: Pelindo dalam Silaksanti (2022)

Shore power memungkinkan kapal untuk terhubung ke jaringan listrik saat berlabuh, sehingga mesin dapat dimatikan sambil tetap menyediakan daya untuk fungsi kritis, yang berpotensi mengurangi emisi secara signifikan jika menggunakan sumber energi terbarukan, sebagaimana Pelindo III melaporkan penghematan 40% berkat pengurangan waktu pemuatan (Doyle, 2019; Silaksanti & Tjipto Sudarmo, 2020). Untuk mendukung hal ini, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut telah mengeluarkan Surat Edaran SE-DJPL-22 Tahun 2022 tentang penggunaan fasilitas listrik darat (On Shore Power Supply/OPS) di pelabuhan bagi kapal-kapal yang berlayar di pelabuhan Indonesia.

Gambar 2 memperlihatkan implementasi shore connection yang tidak hanya berkontribusi pada pengurangan emisi GRK, dan meningkatkan efisiensi operasional pelabuhan, tetapi dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, dan memperbaiki kualitas udara di sekitar area pelabuhan. Dari data ini, dapat dilihat bahwa terdapat peningkatan yang konsisten dalam upaya reduksi emisi GRK (ton CO2) dan peningkatan efisiensi energi (BOE) yang signifikan dari 115 BOE pada tahun 2018 menjadi 9.261 BOE pada tahun 2021 di pelabuhan Indonesia melalui penggunaan shore connection.

Gambar 2. Trend Reduksi Emisi GRK dan Efisiensi Energi Dari Penggunaan Shore Connnection tahun 2018 - 2021

Sumber: Silaksanti, 2022

2. Tantangan Utama dalam Meningkatkan Efisiensi Energi

Outlook Energi Indonesia 2023 memproyeksikan kebutuhan energi selama 10 tahun mendatang, tumbuh rata-rata 4,6% dan sektor transportasi masih mendominasi di bandingkan sektor lainnya (Dewan Energi Nasional, 2023). Dalam menghadapi hal tersebut pelabuhan sebagai bagian sektor transportasi, yang berkontribusi dalam peningkatan efisiensi energi menghadapi beberapa tantangan utama. Pertama, biaya investasi yang tinggi, di mana teknologi ramah lingkungan dan sistem manajemen energi memerlukan investasi awal yang signifikan.

Sebuah studi oleh Kementerian ESDM (2024) menunjukkan bahwa implementasi teknologi efisiensi energi, seperti tenaga surya dan sistem manajemen energi pintar, membutuhkan biaya besar yang sulit dipenuhi oleh banyak pelabuhan, terutama yang berskala menengah dan kecil. Kedua, keterbatasan teknologi dan pengetahuan, karena adanya kekurangan akses dan pengetahuan mengenai teknologi efisiensi energi yang modern dan efektif. Ketiga, regulasi yang belum harmonis. Kurangnya regulasi komprehensif dan harmonis untuk mendorong efisiensi energi dan penerapan teknologi hijau di pelabuhan menjadi penghambat. Meskipun pemerintah telah meratifikasi beberapa konvensi internasional terkait efisiensi energi dan pengurangan emisi, seperti MARPOL Annex VI, implementasi di tingkat nasional masih belum optimal karena regulasi yang belum seragam dan koordinasi lintas kementerian yang masih kurang (Ambari, 2021; Kementerian ESDM, 2024).

3. Strategi dan Kebijakan yang Dapat Diimplementasikan

Kebijakan dan regulasi memainkan peran penting dalam mendorong efisiensi energi di pelabuhan. Regulasi yang harmonis dan kolaborasi internasional juga penting untuk memastikan keseragaman dalam penerapan standar lingkungan di seluruh pelabuhan dunia (Dimara et al., 2022). Untuk meningkatkan efisiensi energi di pelabuhan Indonesia, beberapa strategi dan kebijakan dapat diterapkan. Pertama, peningkatan investasi dalam infrastruktur yang lebih modern dan efisien, seperti elektrifikasi peralatan pelabuhan dan penggunaan energi terbarukan seperti panel surya dan turbin angin. Elektrifikasi pelabuhan dapat membantu mengurangi ketergan-tungan pada bahan bakar fosil dan mencapai netralitas karbon di industri pelayaran global pada tahun 2050 (U.S. Department of Energy, 2024), serta peningkatan rasio kontainerisasi dan mengembangkan transportasi intermodal (Yu et al., 2022).

Kedua, pemerintah memberi-kan insentif fiskal dan subsidi untuk mendorong adopsi teknologi ramah lingkungan dan manajemen energi (Christodoulou et al., 2019). Prog-ram seperti Port Electrification Network oleh Electrification Coalition (2024) membantu pelabuhan beralih ke kendaraan dan peralatan listrik. Ketiga, pengembangan kapasitas dan pelatihan dengan meningkatkan pengetahuan dan kemampuan pengelola pelabuhan melalui program pelatihan dan workshop mengenai efisiensi energi dan teknologi hijau. Pelatihan ini memastikan tenaga kerja pelabuhan siap mengimple-mentasikan teknologi baru yang lebih efisien. Sejalan dengan upaya ini, Kementerian Perhubungan Republik Indonesia telah menuangkannya dalam peraturan KM 8 Tahun 2023 tentang Penetapan Mitigasi Perubahan Iklim Transportasi untuk Pencapaian Target Kontribusi yang ditetapkan secara Nasional, dimana salahsatu kategorinya adalah efisiensi energi.

4. Dampak Penerapan Teknologi Ramah Lingkungan

Penerapan teknologi ramah lingkungan di pelabuhan berdam-pak signifikan pada efisiensi energi. Berbagai teknologi seperti elektrifikasi peralatan pelabuhan, penggunaan energi terbarukan, dan sistem manajemen energi berbasis ICT dapat mengurangi emisi dan meningkatkan efisiensi operasional (Acciaro et al., 2014; Geerlings & Van Duin, 2011). Elektrifikasi peralatan pelabuhan, seperti menggantikan peralatan berbahan bakar fosil dengan yang bertenaga listrik, dapat mengurangi konsumsi energi dan emisi hingga 30%. Misalnya, Pelabuhan Savannah di Amerika Serikat telah mengadopsi crane bertenaga listrik, yang mengurangi penggunaan bahan bakar hingga 95% dibandingkan crane diesel konvensional​ (U.S. Department of Energy, 2024).

Penggunaan energi terbarukan, seperti panel surya dan turbin angin, dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan energi pelabuhan dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Pelabuhan Long Beach di California telah mengurangi emisi karbon dioksida lebih dari 1.000 ton per tahun melalui pemasangan panel surya (Bertrand & Williams, 2022). Implemen-tasi sistem manajemen energi berbasis ICT juga meningkatkan efisiensi operasional dengan memungkinkan pengelolaan energi yang lebih efektif. Sistem ini memungkinkan pelabuhan untuk memonitor dan mengatur penggunaan energi secara real-time, mengidentifikasi area untuk peningkatan efisiensi, dan mengurangi pemborosan energi​ (Brickman, 2018).

5. Benchmarking Internasional dan Praktik Terbaik

Studi benchmarking menunjuk-kan bahwa pelabuhan internasional seperti Rotterdam dan Los Angeles telah berhasil mengimplemen-tasikan praktik terbaik yang dapat diadopsi oleh pelabuhan Indonesia. Pelabuhan Rotterdam memanfaat-kan energi angin dan sistem pengelolaan energi canggih, berhasil mengurangi emisi CO2 sebesar 4,2% pada tahun 2022. Upaya ini termasuk proyek Porthos untuk menangkap dan menyimpan CO2 serta pembangunan pipa hidrogen, dengan tujuan mencapai netralitas karbon pada tahun 2050 melalui lebih dari 60 proyek transisi energi ​(Port of Rotterdam, 2023)​. Pelabuhan Los Angeles, melalui program Clean Air Action Plan (CAAP), berhasil mengurangi emisi polutan udara utama hingga 50% dan mempromosikan penggunaan teknologi hijau secara luas. CAAP mencakup strategi seperti Clean Truck Program dan pengurangan emisi dari kapal dan peralatan penanganan kargo, menjadikan pelabuhan ini sebagai salah satu pelabuhan terbersih di dunia (The Port of Los Angeles, 2017). Pelabuhan hijau (Green Port) yang telah menerapkan strategi efisiensi energi tersebut menunjukkan bukan hanya sebuah konsep ideal, tetapi dapat diwujudkan dalam praktik (Bergqvist & Monios, 2019).

6. Manfaat Jangka Panjang dari Peningkatan Efisiensi Energi

Peningkatan efisiensi energi di pelabuhan Indonesia tidak hanya membawa manfaat lingkungan tetapi juga manfaat ekonomi dan sosial, seperti: pengurangan emisi dan polusi, yang berdampak positif pada kesehatan masyarakat dan lingkungan. Kemudian, meningkat-kan efisiensi operasional pelabuh-an, mengurangi biaya operasional, dan meningkatkan daya saing pelabuhan Indonesia di pasar global, serta mendorong pertumbuhan ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja di sektor teknologi hijau dan peningkatan daya saing industri maritim.

7. Analisis SWOT

Analisis SWOT terkait efisiensi energi di pelabuhan-pelabuhan utama Indonesia mengungkapkan beberapa aspek penting. Dari sisi kekuatan, Indonesia memiliki keuntungan signifikan berupa lokasi strategis di jalur perdagangan internasional, yang didukung oleh volume perdagangan yang tinggi. Hal ini menciptakan landasan yang kuat untuk investasi dalam teknologi dan infrastruktur efisiensi energi. Selain itu, dukungan pemerintah melalui berbagai kebijakan dan regulasi menjadi faktor pendorong penting dalam upaya peningkatan efisiensi energi di sektor pelabuhan.

Meskipun demikian, terdapat beberapa kelemahan yang perlu diatasi, seperti: infrastruktur pelabuhan yang ada saat ini masih kurang optimal dalam hal efisiensi energi, sementara adopsi teknologi terbaru masih terbatas. Hal ini ditambah regulasi yang belum sepenuhnya harmonis, yang dapat menghambat implementasi program-program efisiensi energi secara efektif.

Di sisi lain, terbuka berbagai peluang yang dapat dimanfaatkan, yaitu: perkembangan pesat dalam teknologi hijau membuka kemungkinan untuk meningkatkan efisiensi energi secara signifikan. Insentif dari pemerintah, seperti keringanan pajak atau subsidi, dapat mendorong investasi dalam teknologi ramah lingkungan. Selain itu, potensi kerjasama internasional dalam transfer teknologi dan pengetahuan dapat mempercepat upaya peningkatan efisiensi energi di pelabuhan-pelabuhan Indonesia.

Namun, ada beberapa ancaman juga perlu diwaspadai, seperti: persaingan dari pelabuhan-pelabuhan di negara tetangga yang mungkin lebih maju dalam hal efisiensi energi dapat menjadi tantangan kompetitif. Perubahan standar dan kebijakan internasional terkait efisiensi energi dan emisi karbon juga dapat menciptakan tekanan baru bagi pelabuhan-pelabuhan Indonesia untuk beradaptasi. Terakhir, risiko lingkungan dan dampak perubahan iklim yang semakin meningkat menambah urgensi untuk mengimplementasikan solusi efisiensi energi secara lebih agresif.

Dengan memahami berbagai aspek dalam analisis SWOT ini, para pemangku kepentingan dapat merancang strategi yang lebih efektif untuk meningkatkan efisiensi energi di pelabuhan-pelabuhan utama Indonesia, meningkatkan daya saing di tingkat global, dan berkontribusi pada upaya mitigasi perubahan iklim yang lebih luas.

8. Interpretasi Hasil Penelitian

Hasil penelitian menunjuk-kan bahwa efisiensi energi di pelabuhan-pelabuhan utama Indo-nesia masih perlu ditingkatkan, dan diperluas penerapannya pada pelabuhan-pelabuhan lainnya di Indonesia. Meskipun ada kesa-daran yang meningkat tentang pentingnya efisiensi energi, penerapannya masih terhambat oleh beberapa faktor, termasuk biaya investasi yang tinggi, keterbatasan teknologi, dan regu-lasi yang belum harmonis.

Tantangan utama yang dihadapi dalam meningkatkan efisiensi energi meliputi: biaya investasi yang tinggi, dimana teknologi ramah lingkungan seperti elektrifikasi peralatan pelabuhan dan instalasi energi terbarukan memerlukan investasi awal yang besar. Kemudian adanya keter-batasan teknologi dan pengetahu-an, dimana masih banyak pelabuhan masih menggunakan teknologi lama yang kurang efisien, dan ada kekurangan pengetahuan tentang teknologi baru yang lebih efisien. Selanjutnya  terkait regulasi yang belum komprehensif dan insentif dari pemerintah yang mendorong efisiensi energi masih terbatas dan belum terintegrasi dengan baik.

Strategi yang diidentifikasi untuk mengatasi tantangan ini meliputi peningkatan infrastruktur, pembe-rian insentif pemerintah, dan pe-ningkatan kapasitas melalui pelatihan dan edukasi. Hasil dari penerapan teknologi ramah lingkungan seperti elektrifikasi peralatan dan penggunaan energi terbarukan menunjukkan potensi pengurangan emisi yang signifikan dan peningkatan efisiensi operasional.


E. Kesimpulan

Artikel kebijakan ini mengkaji kondisi efisiensi energi di pelabuhan-pelabuhan utama Indonesia, mengidentifikasi tantangan, serta mengeksplorasi peluang dan strategi untuk peningkatan efisiensi energi yang berkelanjutan. Pelabuhan utama di Indonesia menunjukkan tingkat konsumsi energi yang tinggi dan ketergantungan pada bahan bakar fosil. Meskipun kesadaran akan pentingnya efisiensi energi meningkat, implementasi teknologi ramah lingkungan masih terbatas.

Tantangan utama dalam meningkatkan efisiensi energi mencakup biaya investasi yang tinggi, keterbatasan teknologi dan pengetahuan, serta regulasi yang belum komprehensif. Strategi yang dapat diimplementasikan untuk mengatasi tantangan ini meliputi peningkatan infrastruktur dan teknologi, pemberian insentif dan subsidi pemerintah, serta pengembangan kapasitas melalui pelatihan dan edukasi.

Penerapan teknologi ramah lingkungan, seperti elektrifikasi peralatan pelabuhan dan penggunaan energi terbarukan, menunjukkan potensi pengurangan emisi yang signifikan dan peningkatan efisiensi operasional. Benchmarking dengan pelabuhan internasional seperti Rotterdam dan Los Angeles menunjukkan bahwa adopsi praktik terbaik dapat membantu meningkatkan efisiensi energi di pelabuhan Indonesia.

Secara keseluruhan, peningkat-an efisiensi energi di pelabuhan Indonesia dapat mengurangi emisi dan polusi, meningkatkan efisiensi operasional, serta mendukung pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.

F. Rekomendasi Kebijakan

Artikel ini mengajukan lima kategori rekomendasi kebijakan untuk optimalisasi efisiensi energi di pelabuhan-pelabuhan Indonesia, sebagai berikut:

1.     Kebijakan Investasi dan Insentif Fiskal, meliputi: pemberian insentif pajak, subsidi untuk teknologi ramah lingkungan, serta pembentukan dana khusus untuk proyek efisiensi energi melalui pinjaman dan hibah.

2.     Pengembangan Infrastruktur dan Teknologi, mencakup: elektri-fikasi peralatan pelabuhan untuk menggantikan peralatan berba-han bakar fosil, implementasi sistem manajemen energi terpadu berbasis teknologi informasi, dan adopsi sumber energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, dan bioenergy dari limbah pelabuhan.

3.     Regulasi dan Standarisasi, me-lalui: penetapan standar efisiensi energi yang ketat untuk operasional pelabuhan, mewajibkan audit energi secara berkala, serta menerapkan batas emisi yang lebih ketat dengan sanksi yang jelas bagi pelanggar.

4.     Pendidikan dan Pelatihan dengan menyelenggarakan prog-ram pelatihan manajemen energi dan efisiensi energi bagi pengelola pelabuhan, memberi-kan sertifikasi keberlanjutan, dan melaksanakan kampanye kesa-daran publik dan stakeholder tentang pentingnya efisiensi energi.

5.     Kerjasama dan Kolaborasi, dengan memfasilitasi kerjasama internasional untuk pertukaran pengetahuan dan teknologi, serta mendorong kemitraan pelabuhan dan perusahaan teknologi untuk mengembangkan solusi inovatif, termasuk program inkubasi untuk strartup teknologi hijau di sektor maritim.

Dengan menerapkan rekomen-dasi kebijakan ini, diharapkan pelabuhan-pelabuhan di Indonesia dapat meningkatkan efisiensi energi, mengurangi dampak lingkungan, dan meningkatkan daya saing di pasar global sekaligus mendukung tujuan keberlanjutan jangka panjang dan memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan yang signifikan bagi Indonesia.


Daftar Pustaka

Acciaro, M., Ghiara, H., & Cusano, M. I. (2014). Energy management in seaports: A new role for port authorities. Energy Policy, 71. https://doi.org/10.1016/j.enpol.2014.04.013

Ambari, M. (2021, November 16). Peran Baru Pelabuhan Laut Indonesia untuk Menurunkan Emisi Karbondioksida. https://www.mongabay.co.id/2021/11/16/peran-baru-pelabuhan-laut-indonesia-untuk-menurunkan-emisi-karbondioksida/

Badan Pusat Statistik. (2023). Statistik Transportasi Laut. https://www.bps.go.id/id/publication/2023/11/27/945749d88a6234417d01c337/statistik-transportasi-laut-2022.html

Bergqvist, R., & Monios, J. (2019). Green Ports in Theory and Practice. In Green Ports: Inland and Seaside Sustainable Transportation Strategies. https://doi.org/10.1016/B978-0-12-814054-3.00001-3

Bertrand, S., & Williams, B. (2022). Climate Change Mitigation and Adaptation at U.S. Ports. https://www.eesi.org/files/IssueBrief_Climate_Adaptation_Mitigation_Ports_2022.pdf

Brickman, S. (2018). Seaports Need A Lot Of Energy, But Electrification Can Reduce Pollution And Costs. https://www.ase.org/blog/seaports-need-lot-energy-electrification-can-reduce-pollution-and-costs

Cahyadi, T. (2024). Penyusunan Indikator Kinerja Tingkat Capaian Target Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca Kementerian Perhubungan.

Christodoulou, A., Gonzalez-Aregall, M., Linde, T., Vierth, I., & Cullinane, K. (2019). Targeting the reduction of shipping emissions to air: A global review and taxonomy of policies, incentives and measures. Maritime Business Review, 4(1), 16–30. https://doi.org/10.1108/MABR-08-2018-0030

Cullinane, K., & Bergqvist, R. (2014). Emission control areas and their impact on maritime transport. In Transportation Research Part D: Transport and Environment (Vol. 28, pp. 1–5). Elsevier Ltd. https://doi.org/10.1016/j.trd.2013.12.004

Dewan Energi Nasional. (2023). Outlook Energi Indonesia 2023. https://den.go.id/publikasi/Outlook-Energi-Indonesia?page=1

Dimara, A., Triantafyllidis, D., Krinidis, S., Ntaras, N., Koutsogianni, O., Tsoukos, G., Giannopoulos, T., Kitsikoudis, K., Ioannidis, D., Zarkadoula, M., Bizakis, A., Antypas, S., Goumas, G., & Tzovaras, D. (2022). A low-cost business-oriented seaport energy effective management platform. International Journal of Applied Power Engineering, 11(1), 62–90. https://doi.org/10.11591/ijape.v11.i1.pp62-90

Doyle, W. (2019). Indonesia makes big commitment to shore power. Electric and Hybrid Marine Technology. https://www.electrichybridmarinetechnology.com/news/ports-and-harbours/indonesia-makes-big-commitment-to-shore-power.html

Electrification Coalition. (2024). Port Electrification Work. https://electrificationcoalition.org/port-electrification-network/

ESCAP. (2022). Environmental Sustainability of Transport Systems. https://www.researchgate.net/publication/366618361

Geerlings, H., & Van Duin, R. (2011). A new method for assessing CO2-emissions from container terminals: A promising approach applied in Rotterdam. Journal of Cleaner Production, 19(6–7). https://doi.org/10.1016/j.jclepro.2010.10.012

Iris, Ç., & Lam, J. S. L. (2019). A review of energy efficiency in ports: Operational strategies, technologies and energy management systems. In Renewable and Sustainable Energy Reviews (Vol. 112, pp. 170–182). Elsevier Ltd. https://doi.org/10.1016/j.rser.2019.04.069

Kementerian ESDM. (2024). Handbook of Energy & Economy Statistics of Indonesia 2023. Ministry of Energy and Mineral Resources - Republic of Indonesia. https://esdm.go.id/id/publikasi/handbook-of-energy-economic-statistics-of-indonesia

Port of Rotterdam. (2023, August). Highlights: Top 12 energy transition projects. https://www.portofrotterdam.com/en/news-and-press-releases/highlights-top-12-energy-transition-projects

Silaksanti, D. (2022). Implementasi Shore Connection. Pusat Pengelolaan Transportasi Berkelanjutan (PPTB).

Silaksanti, D., & Tjipto Sudarmo, S. (2020). Cost and Environmental Benefit in The Use of Shore Connection in BJTI Port. Advances in Transportation and Logistics Research, 3. https://proceedings.itltrisakti.ac.id/index.php/ATLR/article/view/251/282

Supply Chain Indonesia. (2021). Data Perkembangan Pergerakan Barang di Pelabuhan Utama Indonesia. https://supplychainindonesia.com/wp-content/files/Kumpulan_Data_Perkembangan_Pergerakan_Barang_di_Pelabuhan_Utama_Indonesia_Edisi_April_2021.pdf

The Port of Los Angeles. (2017). Preliminary Cost Estimates for Select Clean Air Action Plan Strategies. https://kentico.portoflosangeles.org/getmedia/cf282054-d29a-495f-a042-b2c0ec33639b/CAAP_2017_Costing_Report-Final

U.S. Department of Energy. (2024). Port Electrification Handbook. U.S. Department Of Energy. https://www.pnnl.gov/sites/default/files/media/file/Port_Electrification_Handbook_FINAL.pdf

World Bank. (2023). Logistics Performance Index (LPI). https://lpi.worldbank.org/

Yu, Y., Sun, R., Sun, Y., Wu, J., & Zhu, W. (2022). China’s Port Carbon Emission Reduction: A Study of Emission-Driven Factors. Atmosphere, 13(4). https://doi.org/10.3390/atmos13040550

 

No comments:

Post a Comment